Friday, 22 July 2016

2007

Terlalu lama aku berteman dengan "iblis".
Kadang pula mata ku pejam,
Dia memeluk hangat dibelakangku

Susah sungguh aku meninggalkannya,
Sempat ku lakukan
Dia berubah menjadi wanita cantik, muda, menangis dikakiku.

Bungaku

Coba dengarlah dan renungkan sejenak, dalam batas anganmu melebihi mimpi-mimpi yang pernah kau rangkai. Biar ku jelaskan padamu apa yang sedang terjadi antara aku terhadap dirimu.
Dan cobalah kau resapi dalam kesederhanaan pikiranmu. Wahai bungaku....
Dengarlah ucapanku yang tak berpendidikan ini. Aku hanya ingin kau sedikit berbagi kisah lagu lalumu, tentu dengan senyuman ketika berbicara. Kau yang aku kenal disaat bunga-bunga kesepian dari sang lebah. Disaat itulah aku berjabat tangan dengan cinta.

Coba dengarlah dan renungkan sejenak, dalam khayalan yang tak terbatas ujungnya. Wahai bungaku, ku mengagumimu melebihi setan-setan mengagumi kejahatan, melebihi malam mengagumi datangnya bintang, melebihi segalanya yang tak sempat kau pikirkan. Dikau indah, elok seperti pujian-pujian kepada sang penyair terhadap kesendiriannya, ku tak berdaya untuk ber-munafik tentang perasaan ini kepadamu.

Coba dengarlah dan renungkan sejenak. Inginnya kau menjadi bungaku

Monday, 18 July 2016

yan-yan

Senyummu
Kikis tebalnya malam hitam

Candamu
Membuat marah si sepi

Keramahanmu
Buat malu tuan sombong

Dan semua yang ada dalam dirimu
Bikin iri tujuh bidadari.


lelah

Lepas lelah diawal isya
Sang istri bermimpi
Anak-anak bermain didalam mimpi

Rokok kembali jadi lentera buku
Penapun kembali berdansa
Menulis irama lagu nina bobo

Di awal isya
Kutulis cita-cita hari ini
Yaitu tidur


Tidurlah

Tidurlah
Rebahkan segala yang kau anggap duka

Tenanglah
Aku disisimu
Dalam selaput malam menjagamu.


Mimpi

Aku tak punya apa-apa
Hanya dosa ku bawa kemana-mana

Badan tinggal tulang
Mirip fosil triplek jati

Aku tak bisa apa-apa
Hanya kentut andalanku

Telanjang bulat, telanjang dada
Dadamu bulat, ku raba-raba

Ku bangun, eh ternyata mimpi
Tetap saja gila seperti ini.


Tenanglah

Kasihan saudaraku
Makan waktu sia-sia
Semangatnya hampir luntur
Dibawa arus entah kemana

Adakah adil?
Bagi yang menimbang suka dan duka

Usah gusar saudaraku
Akhir pasti kau bahagia.